Jika sekarang banyak terjadi kegiatan berpolitik yang destruktif, sikut-sikutan, saling adu licik, tipu-menipu atau mungkin dapat saya rangkum dengan istilah politik busuk. Maka, tidak terlalu mengherankan mengingat sejak dahulu teori berpolitik busuk ini telah ada. Siapa yang meletakkan dasarnya? Mungkin berbicara siapa yang meletakkan dasar politik seperti ini masih kabur. Akan tetapi, dalam buku Cakrawala Islam (Amien Rais, 1991) termaktub catatan bahwa politik busuk (tidak sehat) di atas seringkali disinonimkan dengan Politik Machiavellis oleh kalangan ahli politik. Karena memang ajaran politik dalam buku legendaris miliknya The Prince lebih cenderung mengajarkan untuk berpolitik secara tidak sehat.
Saya akan membantu menjelaskan beberapa gagasan dalam buku tersebut yang dianggap kontroversial oleh beberapa ahli politik. Pertama, Machiavelli mengajarkan bahwa kekerasan, brutalitas dan kekejaman merupakan cara yang-cara yang seringkali perlu diambil penguasa dalam rangka melanggengkan kekuasaannya. Malah, ada seorang ahli yang mengatakan bahwa Machiavelli adalah guru dalam “pengelolaan kekerasan”. Karena itulah di kemudian hari muncul semboyan terkenal “menghalalkan segala cara”.
Kedua, penaklukan total atas musuh-musuh politik dinilai sebagai kebajikan puncak (summum bonum). Musuh tidak boleh diberi kesempatan untuk bangkit kembali, apalagi untuk menyusun kekuatan kembali. Politik semacam ini berintikan pada nafsu untuk merebut kekuasan dan menguasai pemerintahan tanpa mengenal batas, sehingga penindasan dan penaklukan terhadap musuh-musuh politik dianggap sebagai sebuah keharusan.
Ketiga, dalam menjalankan kekuasaan politiknya seorang penguasa harus dapat bertindak seperti binatang buas, terutama seperti singa dan sekaligus anjing pemburu. Kebuasan seekor singa dapat membuat takut seekor serigala, sedang kecerdikan dan kecerdasan anjing pemburu akan membantunya melewati berbagai jebakan yang menghadang.
Sebenarnya, dahulu gagasan-gagasan ini ditujukan untuk pangeran yang berkuasa pada zamannya. Namun, dalam praktiknya saat ini tidak jarang para politikus pun ikut-ikutan menggunakannya. Mungkin karena gagasan ini cukup pragmatis dalam rangka mengatasi berbagai permasalahan kekuasaan saat ini.
Seharusnya, jika kita berpegang pada pedoman Islam. Kita tentu akan mengerti bahwa jabatan adalah amanah. Amanah yang tidak hanya dipertanggung jawabkan di hadapan umat manusia, melainkan juga kepada Allah SWT, pencipta kita. Bahkan, konsep ukhuwah (persaudaraan) sepertinya juga tidak terlintas di kepala Machiavelli saat itu, miris memang.
Memang, di kemudian hari Machiavelli menuliskan Discourse on the First Ten Books of Titus Livius yang lebih memperlihatkan bagaimana pandangan politik Machiavelli yang humanis, beretika dan bermoral. Namun sayangnya, seperti yang ditulis Amien Rais gagasan-gagasan dalam The Prince sudah terlanjur mengakar dalam alam bawah sadar para politikus busuk tersebut.
Dirangkum dari:
Rais, Amien. 1991. Cakrawala Islam. Bandung: Mizan. Hlmn 32-33.