Fast Food Sebagai Akar Masalah Kesehatan dan Perilaku Konsumtif dalam Masyarakat

Dunia semakin berubah dari waktu ke waktu, dinamis begitu biasa diistilahkan. Tidak terkecuali dengan manusia sebagai penghuninya. Manusia semakin dinamis dan menginginkan hal-hal yang berlabel instant dan mudah. Hal-hal yang dulunya dilakukan dengan waktu yang lama kini seakan tidak perlu terjadi lagi. Pergi ke kantor berjalan kaki, mengerjakan tugas kantor dengan mesin ketik, hingga makan makanan dengan masak sendiri tidak lagi familiar dengan munculnya berbagai macam teknologi bantu kehidupan.

Pergi ke kantor tidak harus berjalan karena adanya kendaraan pribadi, mengerjakan tugas kantor bisa dengan komputer yang canggih, begitu pula dengan makan tidak lagi harus sulit meracik sendiri karena adanya makanan cepat saji (sering diistilahkan dengan fast-food) menjamur bak cendawan di musim hujan. Hal-hal seperti di atas sangat membantu bagi kaum-kaum perkotaan, kaum yang hidupnya sangat padat dengan aktifitas harian.

Namun, di balik semua itu ternyata fast-food membawa suatu masalah kesehatan yang besar. Survey membuktikan bahwa statistik menunjukka adanya kenaikan berat badan hingga 500% bagi beberapa pelanggan McDonalds.

Dari statistik dan kepeduliannya akan kesehatan. Morgan Spurlock seorang pembuat film dokumenter mencoba untuk melakukan ‘internalisasi’ terhadap pelahap McDonalds agar dia sendiri juga merasakan bagaimana efek makanan cepat saji terhadap kesehatannya.

Pada percobaannya ini, dia mencoba melahap semua menu McDonalds dalam waktu 30 hari. Ibaratnya jika di Indonesia ada film “30 hari mencari cinta” maka kali ini dia membuat film “30 hari makan McDonalds”. Sebelum membuat film ini dia sudah diperingatkan dokter pribadinya akan resiko terhadap kesehatannya yang amat tinggi. Namun, dia tidak bergeming dan yakin akan apa yang akan dilakukannya. Menurutnya resiko sebesar itulah yang akan dia bayar untuk memproduksi film ini.

Dalam pembuatan film ini baik pagi, siang, sore, hingga malam, selama 30 hari Morgan hanya makan makanan seperti Big Macs, Chicken Nuggets, hingga bergalon-galon Cola dari McDonalds. Selama itu pula dia mengaku dirinya selalu dalam keadaan tidak sehat, lemas, kehabisan energi, tekanan darahnya naik begitu juga kolesterolnya, livernya pun terpengaruh. Kondisi ini memang tidak mengherankan, karena berbagai penelitian telah menemukan bahwa pengaruh buruk dari terlalu sering mengonsumsi fast-food adalah risiko terkena penyakit jantung dan kegemukan (obesitas. Hal ini dikarenakan tingginya kadar garam, lemak, dan kolesterol dalam tubuh.

Penayangan film ini di berbagai negara telah menimbulkan banyak perdebatan tentang keabsahan penelitian yang dilakukan oleh Morgan Spurlock. Bahkan pihak McDonalds sendiri pun berang dengan penayangan film ini, mereka mencela Spurlock dengan kata-kata ‘tidak realistis dan menjengkelkan ‘. Mereka juga menjelaskan bahwa kuantitas makanan yang dimakan oleh Spurlock adalah kuantitas rata-rata pelanggan selama enam tahun. “Kami tersohor di seluruh dunia dengan hamburger dan kentang goreng, tetapi selalu dianjurkan semuanya dikonsumsi secara seimbang,’ tandas mereka.

Apapun yang terjadi, McDonalds sendiri di negara asalnya Amerika telah dituding berada di balik layar ancaman bagi kesehatan masyarakat. Bahkan, saat ini pun harus menghadapi tuntutan sekelompok anak-anak yang menyatakan McDonalds bertanggungjawab atas masalah obesitas dan problem kesehatan lain yang mereka alami.

Saat ini tidak dapat dipungkiri, makanan cepat saji seperti McDonalds telah menjadi ‘trade-mark’ bagi kaum berstatus sosial tinggi. Ibaratnya, menikmati makanan fast-foods diidentikkan dengan status sosial tinggi. Padahal di Amerika (dan negara-negara barat sendiri) makanan ini cenderung menjadi sajian bagi masyarakat kelas menengah dan kelas bawah. Bahkan, fast-food sendiri memiliki sinonim junk-food yang menggambarkan efek apa yang bisa ditimbulkan dari makanan tersebut.

Dalam sudut pandang sosial adanya makanan cepat saji seperti ini membuat masyarakat cenderung menjadi masyarakat yang konsumtif dan serba instant (McDonalization, George Ritzer : 1995). Jika dibiarkan terus menerus selain kesehatan masyarakat yang akan terancam maka budaya dalam masyarakat juga akan terancam. Hilangnya kebiasaan masak bagi istri, kebiasaan makan bersama keluarga di rumah, hingga lebih kompleks lagi hilangnya hieraki industri bahan makanan segar dari pasar.

Seyogyanya kita selaku masyarakat awm agar tidak membiasakan diri berlaku instan. Makanan cepat saji harus dijadikan solusi terakhir (bahkan tidak sama sekali). Hal terbaik yang dapat dilakukan adalah dengan tetap memasak makanan sendiri di rumah. Karena selain lebih irit dari segi ekonomi, makan bersama keluarga juga akan lebih mempererat jalinan keluarga.