“Pandangan Obyektif Barat Tentang Islam?”
Judul: Kingdom of Heaven
Sutradara: Ridley Scott
Produser : Ridley Scott
Penulis: William Monahan
Pemeran: Orlando Bloom, Eva Green, Liam Neeson, Edward Norton, Jeremy Irons dan Marton Csokas
Distributor: 20th Century Fox
Tanggal Rilis: 4 Mei 2005 (Indonesia)
Durasi: 143 menit (Bioskop), 194 menit (DVD)
”Aku bukanlah mereka, aku SALADIN.
Pergilah dengan damai ke negeri-negeri Kristen ….”
Itulah petikan dialog paling berkesan dalam film Kingdom of Heaven, saat pertemuan Balian of Ibelin pemimpin sementara Kota Yerussalem dengan Pemimpin Tentara Muslim, Sultan Saladin. Kalimat di atas menegaskan betapa Sultan Saladin tetap bersikap arif dan bijaksana walaupun di tengah berkecamuknya perang.
Alur film ini bercerita tentang Perang Salib pada awal abad ke-12, tentang seorang pandai besi dari Perancis (Balian) yang pergi ke kota Yerussalem untuk mencari pengampunan Tuhan, yang kemudian ikut berperan melawan Pemimpin besar Islam, Saladin dan pasukannya yang hendak merebut kembali kota itu dari pihak Kristiani.
Film Kingdom of Heaven ditulis oleh William Monahan dan disutradarai oleh Sir Ridley Scott seorang sutradara dan produser asal Inggris. Film ini resmi keluar pada tanggal 6 Mei 2005, namun di Indonesia rilis terlebih dahulu pada tanggal 4 Mei 2005. Ceritanya diangkat dari kisah kehidupan Balian of Ibelin. Di mana Prof. Hamid Dabashi dari Universitas Columbia menjadi konsultan sejarah dari film ini.
Pada dasarnya, film yang diproduksi 20th Century Fox ini mencoba mengkritik kebijakan sepihak dari Presiden AS George W Bush terhadap Irak. Sebagai negara adikuasa yang tak ada tandingannya, Bush sebetulnya bisa menggunakan di luar cara perang untuk menyelesaikan persoalan Irak dan Afghanistan. Seharusnya semua bisa dilakukan dengan diplomasi seperti yang dilakukan Sultan Saladin – yang pada saat itu memiliki kekuasaan hebat sebagai pemimpin Dinasti Ayyubid di Damaskus, Turki. Namun, dia tidak menggunakannya dan lebih memilih jalan kekerasan.
Ditambah pula, selama ini film-film Hollywood tentang Islam lebih banyak dibumbui cerita-cerita jahat, licik dan bearoma negatif hingga tidak jarang dengan menontonnya justru membuat pandangan tentang Islam makin buruk dan kasar. Lihat saja di film Delta Force, True Lies dan lainnya. Memang ada juga yang positif seperti Lion of The Desert dan The Message yang diperankan Anthony Quinn. Namun, jumlahnya masih sangat minim ketimbang film-film yang mencoba obyektif berpikir dari segi konteks sejarah dan realita normatif. Dan kehadiran Kingdom Of Heaven layak diapresiasi oleh kaum muslim layaknya oase di tengah gurun pasir.
Distribusi dan Produksi
Pengambilan gambar film sebagian besar dilakukan di daerah Ouarzazate di Maroko, dimana di tempat itu pula Scott Ridley pernah pula membuat film Gladiator (2000) dan Black Hawk Down (2001).
Replika kota tua Yerusalem dikonstruksi kembali di daerah gurun pasir. Tidak hanya di situ, pengambilan gambar juga dilakukan di kawasan Spanyol, di kastil Loarre, Segovia, Valsaín, Ávila, Palma del Río dan gedung Casa de Pilatos di Seville.
Dalam masa produksi, halangan juga muncul dari kekhawatiran akan adanya serangan dari golongan Muslim ekstrimis yang menolak pembuatan film tersebut. Namun, kendala tersebut dapat diatasi, bahkan pasukan militer Maroko pun dapat ikut serta dalam film dengan menjadi bagian dari perang salib.
Proses produksi menelan biaya yang besar mencapai 135 juta dolar AS seakan tidak terasa melihat animo dari penonton di seluruh penjuru dunia yang baik. Hingga pekan kedua ditayangkan di Amerika, film ini masuk nomor satu box office (film laris). Ia mengalahkan The Interpreter yang diperankan Nicole Kidman dan Sean Pean. Bahkan dalam hitungan hari, Kingdom of Heaven telah meraup pendapatan sekitar 20 juta dolar AS. Diakhir penayangannya selama hampir 17 minggu tercatat pemasukannya mencapai 211 juta dolar AS, terdiri dari 47 juta dolar pemasukan dalam negeri AS dan 164 juta dolar dari luar negeri.
Penghargaan yang Diraih
Hasil kerja keras dari seluruh kru pun mendapatkan apresiasi yang tidak sedikit. Karena tercatat film Kingdom of Heaven mendapatkan sambutan yang menarik dari masyarakat perfilman dunia. Terbukti dengan masuknya film ke dalam beberapa nominasi festival film.
Prestasi tersebut, antara lain:
# Sebagai Juara
European Film Awards:
* Audience Award
Best Actor (Orlando Bloom)
Satellite Awards:
* Outstanding Original Score
(Harry Gregson-Williams)
VES Awards:
* Outstanding Supporting Visual Effects in a Motion Picture
(Wes Sewell, Victoria Alonso, Tom Wood, Gary Brozenich)
# Sebagai Nominasi
Satellite Awards:
* Outstanding Actor in a Supporting Role, Drama (Edward Norton)
* Outstanding Art Direction & Production Design (Arthur Max)
* Outstanding Costume Design
(Janty Yates)
* Outstanding Visual Effects
(Tom Wood)
Teen Choice Awards:
* Choice Movie: Action/Adventure
* Choice Movie Actor:
Action/Adventure/Thriller (Orlando Bloom)
* Choice Movie Liplock
(Eva Green and Orlando Bloom)
* Choice Movie Love Scene
(Eva Green and Orlando Bloom – Balian and Sibylla kiss)
Respons Positif dari Kaum Muslimin
Lebih lanjut, kabar gembira juga muncul dari respons positif pemerhati film di dunia Islam, khususnya di kawasan Arab. Kingdom of Heaven dianggap cukup objektif dalam memotret fakta sejarah. “Film Kingdom of Heaven sangat jelas memperlihatkan fanatisme agama, tapi bisa diterima,” ujar Amin Maalouf, pengarang buku yang berjudul Perang Salib di mata Dunia Arab.
Awalnya banyak yang pesimis terhadap film ini. Layaknya film-film Hollywood lainnya, dikhawatirkan Kingdom of Heaven akan menampilkan gambaran yang tidak adil kembali tentang umat Islam dan sejarahnya. Para kreator film Hollywood, selama ini selalu menampilkan pihak Islam sebagai pihak musuh yang kejam, radikal dan haus darah, sehingga menambah citra buruk Islam di kalangan masyarakat Barat.
“Tujuan dari film ini untuk menyembuhkan luka-luka, bukan untuk membukanya kembali,” tambah kritikus film asal Mesir, Tarek Al-Shenawy. Kalangan Islam memuji penggambaran tokoh Muslim Saladin, pemimpin pasukan Islam asal Kurdi dalam film tersebut. Tokoh Saladin digambarkan dengan sosok pemimpin yang adil dan tegas namun tidak pula melupakan prinsip-prinsip Islami dalam peperangan.
Para pemerhati film di negara-negara Arab berpendapat Kingdom of Heaven bisa membantu memperbaiki kembali reputasi Islam yang selama ini dirusak oleh film-film Hollywood. Terutama film-film yang menampilkan pertentangan antara pejuang Islam dan pahlawan-pahlawan Amerika.
Namun tidak semua pemerhati film dari Arab sependapat. Karena akademisi asal Lebanon, Asad Abu Khalil, merasa keberatan dengan salah satu adegan dalam film tersebut. Dalam salah satu adegan, pemeran utama dari pasukan Kristen Balian memberi contoh pada para petani Arab bagaimana menggali sumur untuk mengairi tanah pertanian mereka.
“Saya sangat tidak senang, ketika tokoh pahlawan dalam film itu mengambil alih hak miliknya, dan dengan gaya orang Barat yang ‘genius’ mengajarkan bagaimana menggali sumur pada orang Arab, seolah-olah orang-orang Arab itu tidak pernah menggali sumur selama berabad-abad,” tulis Abu Khalil dalam situs pribadinya. Baginya, ini menjadi semacam mitos yang berkembang di kalangan Barat yang meyakini bahwa kedatangan Zionis telah membuat ‘padang pasir menjadi subur’ di Palestina.
Terlepas dari segala kontroversi dan opini yang berkembang, film ini amat layak untuk ditonton oleh tidak hanya kaum muslim, namun oleh seluruh pencinta film yang menginginkan perspektif berbeda tentang Islam dalam film Hollywood.
November 27, 2008 at 8:06 am
gut